Laman

Kamis, 27 Oktober 2011

PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA/MA

PENDAHULUAN
Pengembangan kualitas sumber daya manusia untuk menghadapi persaingan global ditandai oleh semakin pentingnya peranan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam segenap aspek kehidupan manusia. Akibatnya, peningkatan kualitas bidang pendidikan, khususnya yang berorientasi pada penguasaan dan pemanfaatan IPTEK menjadi sangat penting.
Akan tetapi, kualitas pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan (http://mii.fmipa.ugm.ac.id). Hal ini dibuktikan dengan data dari UNESCO (2000) tentang peringat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Lebih lanjut dikatakan bahwa, data Balitbang (2003) menunjukkan bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Programs (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Programs (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP).
Rendahnya prestasi belajar matematika merupakan salah satu permasalahan dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Mutu pendidikan matematika dari tahun ke tahun sejak 1975 sampai sekarang terkesan tidak meningkat, apalagi kalau dibandingkan dengan perkembangan negara-negara lain (Marpaung, 2008). Dari beberapa kali Ujian Nasional, matematika disebut sebagai penyebab utama kegagalan siswa.
Pembelajaran matematika pada umumnya masih didominasi oleh paradigma pembelajaran terpusat pada guru, yang sering disebut sebagai pembelajaran langsung (direct teaching). Guru aktif mentransfer pengetahuan kepada siswa, sedangkan siswa menerima pelajaran dengan pasif. Matematika diajarkan sebagai bentuk yang sudah jadi, bukan sebagai proses. Akibatnya, ide-ide kreatif siswa tidak dapat berkembang, kurang melatih daya nalar dan tidak terbiasa melihat alternatif lain yang mungkin dapat dipakai dalam menyelesaikan suatu masalah. Siswa hanya mampu mengingat dan menghafal rumus atau konsep matematika tanpa memahami maknanya.
Sementara itu, tidak sedikit siswa yang memandang matematika sebagai suatu mata pelajaran yang membosankan, menyeramkan bahkan menakutkan, sehingga motivasi belajar matematika siswa rendah dan banyak siswa berusaha menghindari pelajaran matematika. Banyak siswa merasa kesulitan dalam memahami matematika karena matematika bersifat abstrak, sementara alam pikiran kita terbiasa berpikir tentang obyek-obyek yang konkret. Guru tidak terbiasa menggunakan metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa dan membuat siswa dapat mengaitkan matematika dengan kehidupan nyata, metode pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, pendekatan konstruktivisme, pembelajaran berbasis masalah, dan sebagainya. Guru terbiasa menggunakan model pembelajaran mekanistik dan strukturalistik, yaitu guru menerangkan, memberi rumus dan contoh, kemudian siswa diberi soal untuk dikerjakan. Akibatnya banyak siswa yang masih mengalami kesulitan belajar matematika.
PENDEKATAN KONTEKSTUAL
Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) disingkat menjadi CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka (Syaiful Sagala, 2008: 87). CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Wina Sanjaya, 2008: 255) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa CTL adalah pembelajaran yang dimulai dengan mengambil (mensimulasikan, menceritakan) kejadian pada dunia nyata kemudian diangkat ke dalam konsep matematika yang dibahas.
Sistem CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya mereka. Untuk mencapai tujuan itu, sistem tersebut meliputi delapan komponen berikut: (1) membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, (2) melakukan pekerjaan yang berarti, (3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, (4) bekerja sama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, (7) mencapai standar yang tinggi, (8) menggunaan penilaian autentik (Johnson, E. B., 2009: 67).
Menurut Nurhadi (2003) dalam Syaiful Sagala (2008: 88), Pendekatan Konstekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran, yaitu konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflecting), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).
Konstruktivisme merupakan landasan filosofis dari CTL, yaitu bahwa ilmu pengetahuan itu pada hakekatnya dibangun tahap demi tahap, sedikit demi sedikit, melalui suatu proses.  Dalam pandangan ini strategi yang diperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak  siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Karena itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara: (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa; (2) memberi kesempatan pada siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
Menemukan adalah proses penting dalam pembelajaran agar retensinya kuat dan muncul kepuasan tersendiri bagi siswa dibandingkan dengan melalui diwariskan. Dalam pengertian menemukan sebagai inquiri, prinsip ini mempunyai seperangkat siklus, yaitu: observasi, bertanya, mengajukan, dugaan, mengumpulkan data, dan menyimpulkan. Dengan inquiri, siswa dalam kelas dapat belajar untuk berbicara dan bersikap secara matematika, sebagaimana yang ditulis Richard (1991) dalam Goos, Merrilyn (2004):
by inquiry mathematics, student learn to speak and act mathematically by participating in mathematical discussion and solving new or unfamiliar problem.
Bertanya merupakan jiwa dalam pembelajaran. Bertanya adalah cerminan dalam kondisi berpikir. Dalam bentuk formalnya sebagai salah satu kegiatan dalam mengawali, menguatkan, dan menyimpulkan sebuah konsep. Bentuknya bisa dilakukan guru langsung kepada siswa atau justru memancing siswa untuk bertanya.kepada guru, kepada siswa lain atau kepada orang lain secara khusus. Dengan bertanya, siswa membuat keterkaitan antara materi yang dipelajari untuk menyelesaikan permasalahan matematika. Seperti yang ditulis Pape, J. Stephen (2004),
the more successful students provided evidence that they translate and organized the given information by rewriting it on paper and they used the context to support their solutions.
 Konsep masyarakat belajar (learning community) menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada komunikasi dua arah, yaitu guru terhadap siswa dan sebaliknya, siswa dengan siswa. Berbagai penelitian memang telah banyak menguji keberhasilan bentuk sharing pengetahuan ini, khususnya pembelajaran teman sebaya.
Pemodelan menurut versi CTL, guru bukan satu-satunya model, melainkan harus memfasilitasi suatu model tentang “bagaimana cara belajar” baik dilakukan oleh siswa maupun oleh guru sendiri.
Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari dan dilakukan setiap peserta belajar. Guru mengkoreksi dirinya, siswa dikoreksi oleh gurunya. Nilai hakiki dari prinsip ini adalah semangat introspeksi untuk perbaikan pada kegiatan pembelajaran berikutnya.
Penilaian sebenarnya memandang bahwa kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melulu hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanyalah salah satunya. Itulah hakekat penilaian autentik. Memang, selama ini format tes matematika cenderung menekankan pada pengujian produk bukan proses. Hal ini terjadi karena sistem dan aturan yang dikembangkan menuntut untuk melakukan tes hanya produk saja.
Pembelajaran dengan sistem CTL akan membuat siswa : (1) menjadi siswa yang dapat mengatur diri sendiri dan aktif, (2) membangun keterkaitan antara sekolah dengan konteks kehidupan nyata, (3) melakukan pekerjaan yang berarti, (4) menggunakan pemikiran tingkat tinggi yang kreatif dan kritis, (5) bekerja sama, (6) mengembangkan sikap individu, (7) mengenali dan mencapai standar tinggi.
Pengertian belajar dalam konteks CTL meliputi beberapa hal (Wina Sanjaya, 2008 : 260):
a)      Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkontruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki.
b)      Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahuan pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki, akan berpengaruh terhadap pola perilaku manusia.
c)      Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan masalah anak akan berkembang secara utuh, baik intelektual, mental maupun emosi.
d)     Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju ke kompleks.
e)      Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (real world learning).
PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Dalam kehidupan sehari-hari manusia sering berhadapan dengan masalah, maka memecahkan masalah merupakan aktivitas sehari-hari bagi manusia. Oleh karenanya, salah satu indikator tercapainya tujuan pembelajaran di sekolah adalah jika siswa dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Pemecahan masalah merupakan salah satu strategi dalam pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, siswa harus dilatih menyelesaikan masalah. Dalam menyelesaikan masalah, siswa perlu memahami proses penyelesaian masalah dan trampil dalam memilih dan mengidentifikasi kondisi dan konsep yang relevan, mencari generalisasi, merumuskan rencana penyelesaian dan mengorganisasikan ketrampilan yang telah dimiliki sebelumnya (Herman Hudoyo, 1988: 113). Conney (1975) dalam Herman Hudoyo (1988: 113) menyatakan bahwa mengajarkan penyelesaian masalah kepada peserta didik memungkinkan peserta didik itu menjadi lebih analitik di dalam mengambil keputusan di dalam hidupnya. Untuk menyelesaikan masalah, seseorang harus menguasai hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya dan kemudian menggunakannya dalam situasi baru.
Kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari diperoleh melalui kemampuan menyelesaikan soal cerita. Penyelesaian soal cerita dimaksudkan agar siswa tidak hanya mampu mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga sebagai sarana untuk mendorong munculnya sikap positif siswa akan kebermaknaan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
            Oleh karenanya, penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika diawali dengan mengaitkan materi yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan kontekstual pada pembelajaran matematika SMA/MA dapat diterapkan pada materi Sistem Persamaan Linear dan Kuadrat (SPLK). Materi SPLK ini diberikan pada siswa kelas X (sepuluh) SMA/MA. Dalam pembelajaran SPLK, guru dapat menerapkan pendekatan kontekstual dengan cara mengawali pembelajaran dengan memberikan soal cerita yang berkaitan dengan SPLK. Dengan membuat keterkaitan antara materi SPLK dengan masalah kehidupan sehari-hari, maka siswa akan merasakan kebermanfaatan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, langkah-langkah dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat membantu siswa membangun sendiri pemahamannya, sehingga materi yang dipelajari tidak mudah hilang (tidak cepat lupa). Berikut ini adalah contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika SMA/MA:
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )
Mata Pelajaran      :           MATEMATIKA
Kelas / Semester   :           X / 1
Pertemuan Ke       :           1
Alokasi Waktu       :           2 x 45 Menit
Standar Kompetensi     :  Memecahkan masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dan pertidaksamaan satu variabel
Kompetensi Dasar        :  3.1 Menyelesaikan sistem persamaan linear dan sistem persamaan campuran linear dan kuadrat dalam dua variabel
Indikator                      :
·         Menentukan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel dengan :
1.     Metode grafik
2.     Metode substitusi
3.     Metode eleminasi
4.     Metode gabungan substitusi dan eleminasi.
I.      Tujuan Pembelajaran
  • Siswa dapat menentukan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel dengan :
1.     Metode grafik
2.     Metode substitusi
3.     Metode eleminasi
       4.     Metode gabungan substitusi dan eleminasi
II.    Bahan / Materi Ajar
  • Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
III.   Metode Pembelajaran
  • Ceramah dengan pendekatan kontekstual
IV.   Langkah-langkah Pembelajaran :

a.     Kegiatan awal :
1.     Apersepsi : Guru mengingatkan kembali tentang materi persamaan linear dua variabel, persamaan kuadrat, dan persamaan garis lurus.
2.     Motivasi : Guru menjelaskan arti penting SPLDV dalam penyelesaian permasalahan kehidupan sehari-hari, misalnya dalam menentukan harga barang, menentukan ukuran panjang atau  lebar suatu bidang berbentuk persegi atau persegi panjang.
3.     Menjelaskan tujuan pembelajaran yaitu menentukan penyelesaian soal-soal cerita yang berkaitan dengan SPLDV.
b.    Kegiatan Inti :
4.     Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok (tiap kelompok terdiri dari 5-6 anak)
5.     Guru memberikan sebuah permasalahan matematika:
”Diketahui harga 2 buku tulis dan 3 bolpoin adalah Rp 5.200,00, sedangkan harga 4 buku tulis dan dua bolpoin adalah Rp 6.800,00. Tentukan harga sebuah buku tulis dan harga sebuah bolpoin!”
6.     Guru membimbing siswa membuat kalimat matematika dari soal cerita tersebut, yaitu:
Misal : buku tulis = x dan bolpoin = y, maka diperoleh dua persamaan sebagai berikut:
2x+3y=5.2004x+2y=6.800 
Kedua persamaan tersebut disebut sistem persamaan linear dengan dua variable (SPLDV)
7.     Guru menjelaskan kepada siswa bahwa untuk menyelesaikan SPLDV tersebut di atas dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu: dengan metode substitusi, eleminasi dan gabungan substitusi eleminasi. Selanjutnya guru menerangkan cara penggunaan masing-masing metode.
8.     Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
9.     Guru memberikan permasalahan yang kedua:
”Sepuluh tahun yang lalu, umur soerang ayah sama dengan 4 kali umur anaknya. Jika jumlah 2 kali umur ayah dan 3 kali umur anaknya sekarang 160 tahun, tentukan umur ayah dan umur anaknya sekarang!”
10.  Siswa menyelesaikan permasalahan tersebut secara berdiskusi dengan kelompoknya. Guru membimbing kelompok-kelompok yang mengalami kesulitan. Guru membiarkan siswa membangun (mengkonstruksi) pengetahuannya sendiri berdasarkan konsep materi yang telah diterimanya.
11.  Setelah selesai berdiskusi, guru memberi kesempatan kepada salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya.
c.     Kegiatan akhir
12.  Membuat kesimpulan dan memberi pekerjaan rumah (PR) secara individu (soal PR terlampir)
V.    Alat / Bahan / Sumber belajar :
Alat                     :  -
Bahan                  :  -
Sumber Belajar     :  Buku Paket dan LKS yang dipakai siswa di sekolah
VI.   Penilaian :
Penilaian afektif  pada saat diskusi kerja kelompok maupun presentasi.
                                                                             ....................................................
Mengetahui,
Kepala ................................                                              Guru Mata Pelajaran

_____________________                                                    __________________
Lampiran :
1.     Diketahui keliling suatu persegi panjang adalah 50 cm. Jika 5 kali panjangnya dikurangi 3 kali lebarnya sama dengan 45 cm, tentukan panjang dan lebarnya!
2.     Suatu hari, Dani dan Budi membeli buku tulis dan pensil bersama-sama. Dani membeli 15 buku tulis dan 3 pensil, sedangkan Budi membeli 10 buku tulis dan 1 pensil. Jika dani dan Budi masing-masing harus membayar Rp 31.500,00 dan Rp 20.500,00, tentukan harga satu buku tulis dan satu pensil!
3.     Lima tahun yang lalu umur seorang ayah sama dengan 4 kali umur anaknya. Jika selisih umur ayah dan anaknya sekarang sama dengan 45 tahun, tentukan umur ayah dan umur anaknya sekarang!
PENUTUP
Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Matematika merupakan ilmu yang bersifat abstrak dan penalarannya deduktif. Kemampuan mengabstraksi dan mendeduksi hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah dalam tahap operasional formal. Oleh karena itu, dalam mengajarkan matematika diperlukan kreatifitas guru. Kreatifitas peserta didik akan terbentuk bila cara penyampaian topik kepada peserta didik sesuai dengan kemampuan dan kesiapan intelektual peserta didik.
Ada banyak strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika. Strategi pemecahan masalah dipergunakan dalam proses pembelajaran untuk melatih peserta didik menghadapi permasalahan yang menuntut kreatifitas. Salah satu strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika adalah pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Pembelajaran matematika di SMA/MA dengan pendekatan kontekstual dapat diterapkan pada materi Sistem Persamaan Linear dan Kuadrat. Dengan pendekatan kontekstual, pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna, sehingga materi dapat diserap siswa dan siswa tidak mudah lupa.

Penelitian Tindakan Kelas | Proposal PTK | Sistematika

Sistematika Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
A. Halaman Judul (Sampul Kulit Luar)
Berisi judul PTK, nama peneliti dan lembaga/sekolah, dan tahun pembuatan. Judul yang baik tentunya yang dapat mengambarkan secara umum tentang isi permasalahan yang dibahas atau dipecahkan. Judul dapat diumpamakan nama sesuatu. Dengan membaca nama, sipembaca dapat membayangkan apa yang melekat pada nama tersebut. Judul hendaknya dibuat sependek mungkin, namun tetap mengambarkan pokok bahasan PTK. walaupun bukan keharusan namun dapat dijadikan pegangan bahwa sebaiknya judul tidak lebih dari dua puluh kata.
B. Halaman Pengesahan
Berisi peneliti dan kepala unit yang mengesahkannya, misalnya kepala sekolah. Penelitian yang dilakukan guru hendaknya diketahui oleh pihak-pihak yang berkompeten di sekolah. Pihak inilah yang mengesahkan proposal PTK, pada umumnya adalah kepala sekolah. Terutama untuk penelitian yang mendapatkan bantuan pendanaan dari pihak tertentu seperti Block Grand dari Depdiknas. Dan bantuan dari instansi tertentu. Halaman pengesahan merupakan keharusan.
1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam latar belakang masalah peneliti menjelaskan beberapa hal, yaitu: (1) mengapa masalah yang diteliti itu penting; (2) kondisi yang diharapkan (dass sollen) dan kondisi yang ada (das sein) sehingga jelas adanya kesenjangan yang merupakan masalah yang menuntut untuk dicari pemecahannya yang tepat melalui PTK; (3) kemukakan secara jelas bahwa masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di dalam PBM disertai ada faktualnya dan diagnosisnya; (4) menyinggung teori yang melandasi diajukannya gagasan untuk memecahkan masalah; (5) apa yang membuat peneliti merasa gelisah dan resah sekiranya masalah tersebut tidak diteliti; (6) gejala-gejala kesenjangan apa yang terdapat di lapangan sebagai dasar pemikiran untuk memunculkan permasalahan; (7) kerugian-kerugian dan keuntungan-keuntunagn apa yang akan terjadi kalau masalah tersebut tidak diteliti; (8) masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut; (9) dijelaskan pula tindakan yang akan dikenakan pada subjek pelaku tindakan. Dalam menyebutkan tindakan, peneliti perlu menjelaskan apa sebab tindakan itu paling tepat diberikan kepada subjek pelaku, dengan alasan yang berkaintan dengan permasalahn yang di cari solusinya. Pada bagian ini sebaiknya tidak menyampaikan uraian yang tidak terkait langsung dengan objek yang diteliti sehingga terkesan bertele-tele; (10) dalam pemaparan latar belakang masalah pada umumnya memakai pendekatan deduksi, yakni dari hal-hal yang sifatnya umum ke hal-hal yang sifatnya khusus (kerucut terbalik).
1.2 Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah adalah kegiatan mendeteksi, melacak, menjelaskan aspek permasalahan yang muncul dan berkaitan dari judul penilitian atau dengan masalah atau fokus yang akan diteliti. Hasil identifikasi dapat diangkat beberapa permasalahan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya
Contoh identifikasi masalah dari judul PTK “Upaya Peningkatan Aktivitas Siswa dan Hasil Belajar dalam Pembelajaran Pengetahuan Sosial Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Kelas V SDN Kali Baru Jakarta Utara.”
Dari latar belakang masalah, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut.
  1. Pembelajaran pengetahuan sosial di kelas masih berjalan monoton
  2. Belum ditemukan strategi pembelajaran yang tepat
  3. Belum ada kolaborasi antara guru dan murid
  4. Metode yang digunakan bersifat konvensional
  5. Rendahnya koalitas pembelajaran pengetahuan sosial.
  6. Rendahnya prestasi siswa untuk mata pelajaran pengetahuan sosial
1.3 Rumusan Masalah
Perumusan masalah dalam PTK ádalah beberapa pertanyaan yang akan terjawab setelah tindakan selesai dilakukan. Perumusan masalah dirumuskan dengan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan dilakukan. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipótesis tindakan nantinya. Dari perumusan masalah dapat menghasilkan topik penelitian atau judul dari penelitian. Perumusan masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. Perumusan masalah hendaknya jelas, padat, dan tidak bertele-tele. Perumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah. Hindari rumusan masalah yang terlalu umum atau terlalu sempit, terlalu bersifat lokal atau terlalu argumentatif.
Contoh:
Apakah penerapan pembelajaran model problem based learning dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada mata pelajaran sosiologi kelas X di SMA 1 Tegal?
1.4 Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Rumuskan tujuan PTK berdasarkan topik atau masalah PTK. Tujuan PTK merupakan jawaban atas masalah penelitian. Keinginan peneliti atas hasil PTK dengan mengetengahkan indikator-indikator apa yang hendak ditemukan dalam PTK, terutama yang berkaitan dengan variabel penelitian. Tujuan penelitan menyatakan target tertentu yang akan diperoleh dari kegiatan PTK yang akan dilaksanakan. Tujuan penelitian harus dinyatakan secaras pesifik, dalam pernyataan yang jelas dan tegas sehingga tidak mengundang kesimpangsiuran arti dalam memaparkan hasil-hasil yang diharapkan dari PTK.
Contoh:
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan daya serap siswa delas 5 SDN 2 Grendeng, Purwokerto Utara terhadap materi IPS Geografi melalui tugas melengkapi bagan buatan guru.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian berdasarkan pada topik atau masalah PTK. Manfaat penelitian menguraikan dampak dari tercapainya tujuan PTK. Uraikan kontribusi hasil PTK memiliki potensi untuk memperbaiki mutu pembelajaran di  kelas sehingga tampak manfaat bagi siswa, guru, maupun pihak-pihak lain yang terkait dengan PTK
Contoh:
  1. Uuntuk Siswa: :memberikan motivasi untuk membudayakan kegiatan membaca dan menulis  pada diri siswa sehingga tingkat belajar mandiri menjadi tinggi.
  2. Untuk Guru: kegiatan penelitian ini memotivasi guru menyiapkan materi pembelajaran lebih mendalam dan harus membuat bagan atau ringkasan yang jelas
  3. Untuk Sekolah: Meningkatnya kinerja guru untuk senantiasa meningkatkan kualitas pendidikan yang merupakan harapan semua masyarakat, tanpa kecuali.
II. KAJIAN PUSTAKA
Pada bagi ini peneliti harus mengraikan dengan jelas kajian teori yang menumbuhkan gagasan dan mendasari usulan rancangan PTK. Kemukakan juga teori, temuan, dan penelitian lain yang relevan dan mendukung pilhan tindakan (treatment) untuk memecahkan permasalahan PTK tersebut. Setelah menjadi laporan penelitian akan menjadi bab tersendiri yang lazimnya akhir dapat dikemukakan hipotesis tindakan yang mengambarkan indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan. Bagian kajian pustaka ini nantinya dinamakan Bab II Kajian Pustaka.
III. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
Bagian ini berisikan: desain tindakan, waktu dan tempat penelitian, subjek  penelitian, cara pengumpulan data, dan teknik analisa data.
3.1 Desain Tindakan
Menjelaskan tentang jenis penelitian yang dilakukan, berapa siklus PTK yang akan dilakukan. serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan setiap siklus.
3.2 Waktu dan tempat penelitian
Contoh:
Penelitian dilaksanakan di SDN 2 Grendeng, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas selama 6 bulan, yaitu mulai bulan Pebruari 2011 sampai Juli 2011.
3.3 Subjek Penelitian
Contoh:
Subyek pada penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 2 Grendeng dengan jumlah 38 siswa, siswa laki‑laki sebanyak 17 orang dan siswa perempuan sebanyak 21 orang.
3.4 Teknik dan alat pengumpulan data
Dalam PTK umumnya dikumpulkan dua jenis data, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data tersebut digunakan untuk menggambarkan perubahan yang terjadi, baik perubahan kenerja siswa, kinerja guru, dan perubahan suasana kelas. Contoh data kualitatif ádalah angka hasil belajar siswa. Contoh data kualitatif ádalah kalimat-kalimat yang mengambarkan ekspresi siswa tentang tingkat pemahaman (kognitif), kepercayaan diri, dan motivasi. Untuk mendapatkan data yang akurat perlu di susun suatu instrumen yang valid dan reliabel. Instrumen yang valid adalah instrumen yang mampu dengan tepat mengukur apa yang hendak diukur.
Contoh:
Cara Pengumpulan Data
Data diperoleh dengan menggunakan instrumen, dengan tahap-tahap penyusunannya sebagai berikut:
  1. pembuatan jurnal harian, untuk merencanakan tindakan dan merekam pelaksanaan kegiatan pada setiap siklus;
  2. observasi aktivitas di kelas, untuk memantau semua aktivitas yang dikembangkan oleh guru dan siswa di kelas;
  3. teknik tes   untuk mengetahui   daya serap siswa dalam belajar di setiap siklus; dan
  4. teknik wawancara, untuk mengetahui hambatan yang dialami siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
3.5 Analisis Data
Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas, ada dua jenis data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti, yakni:
  1. Data kuantitatif (nilai hasil belajar siswa) dapat dianalisis secara deskriptif. Dalam hal ini peneliti menggunakan analisis statistik deskriptif. Misalnya, mencari nilai rerata, persentase keberhasilan belajar, dan lain-lain
  2. Data kualitatif, yaitu data yang berupa informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran tentang ekspresi siswa berkaitan dengan tingkat pemahaman terhadap suatu mata pelajaran (kognitif), pandangan atau sikap siswa terhadap metode belajar yang baru (afektif), aktivitas siswa mengikuti pelajaran, perhatian, antusias dalam belajar, kepercayaan diri, motivasi belajar, dan sejenisnya, dapat dianalisis secara kualitatif.
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus PTK dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik presentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran. Hasil belajar dengan menganalisis nilai rata-rata ulangan harian. kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah. Aktifitas siswa dalam PBM dengan menganalisis tingkat keaktifan siswa dalam PBM tersebut. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah. Implementasi pembelajaran dengan menganalisis tingkat keberhasilannya, kemudian dikategorikan dalam klasifikasi berhasil, kurang berhasil, dan tidak berhasil.
Contoh:
Dalam penelitian ini untuk menganalisis data daya serap siswa melalui prestasi belajar siswa tuntas digunakan metode diskriptif  kuantitatif  dengan teknik  persentase
IV. DAFTAR PUSTAKA
Daftar puataka disusun berdasarkan abjat nama pengarang atau penulis. Dalam penyusunan daftar pustaka tersbut dapat digunakan model MILA (modern Language Association), model APA (American Psychlogical Association), atau model lain yang biasa digunakan oleh oleh masyarakt akademik. Gunakanlah referensi terbaru dan referensi yang dimasukan dalam daftar pustaka aníllala referensi yang digunakan untuk PTK.
Contoh:
Ross, D. (2001). The Reforms. The Mathematics Teacher. 92: 158-163
Schoenfeld Math Wars, Navigator, Vol 4, Number 5, pp. 20-25thematics. In J.F. Voss., D.N. Perkins & J.W. Segal (Eds.). Informal Reasoning and Education. Hillsdale.  NJ: Erlbaum, pp. 311-344.
Wiersma, W. (1995). Research Methods in Education: An Introduction. Boston:     Allyn and Bacon.
Wu, H. H. (2002). Basic Skills versus Conceptual Understanding: A Bogus Dichotomy in Mathematics Education. Tersedia pada http://www.aft.org/publications. Diakses pada tanggal 11 Februari 2007.
V. LAMPIRAN
Bahan bahan yang perlu dilampirkan ádalah:
  1. Instrumen penelitian
  2. Data-data penting
  3. Daftar riwayat hidup tim peneliti ( Currículum Vitae)
  4. Dan hal-hal lain yang diperlukan dalam proposal PTK
Sistematika Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Identifikasi Masalah
1.3 Rumusan Masalah
1.4 Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
1.5 Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
II. KAJIAN PUSTAKA
2.1 Teori Variabel Y
2.2 Teori Variabel X
3.3 Hasil Penelitian yang Relevan
3.4 Hipotesis Tindakan
III. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
3.3 Subjek Penelitian
3.4 Teknik dan Alat Pengumpulan Data
3.5 Analisis Data (Pembahasan)
IV. DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN:
1. RPP
2. Lembar Obsevasi
3. Daftar Riwayat Hidup Peneliti

Minggu, 27 Maret 2011

Strategi Pemecahan Masalah Matematika

Berhadapan dengan sesuatu yang tidak rutin dan kemudian mencoba menyelesaikannya merupakan ciri khas makhluk hidup yang berakal. Pemecahan masalah (problem solving) merupakan latihan bagi siswa untuk berhadapan dengan sesuatu yang tidak rutin dan kemudian mencoba menyelesaikan. Ini adalah salah satu kompetensi yang harus ditumbuhkan pada diri siswa. Kompetensi seperti ini ditumbuhkan melalui bentuk pemecahan masalah.
Pembelajaran pemecahan masalah tidak sama dengan pembelajaran soal- soal yang telah diselesaikan (solved problems). Pada pemecahan masalah kita memberikan bekal kepada siswa berbagai teknik penyelesaian untuk menyelesaikan masalah. Strategi ataupun taktik untuk menyelesaikan masalah dengan cara ini disebut heuristics, karena pada dasarnya pembelajar harus dapat menemukan sendiri.
Terdapat berbagai strategi dalam pemecahan masalah, dari yang sederhana samapai strategi yang cukup kompleks. Diantaranya menerka dan menguji kembali, membuat daftar yang teratur, mengasumsikan jika sebagian dari masalah telah terselesaikan, menghapuskan beberapa kemungkinan, menyelesaikan masalah yang setara, menggunakan simetri, memperhatikan hal khusus, menggunakan alasan langsung, menyelesaikan sutau persamaan, melihat pola yang muncul, mengskets suatu gambar, memikirkan masalah sejenis yang telah diselesaikan, menyelesaikan masalah yang lebih sederhana, menyelesaikan masalah yang mirip, bekerja mundur dan menggunakan formula atau rumus.
Menurut Polya ada 4 langkah yang perlu dilakukan dalam menyelesaikan masalah matematika, yaitu:
A. Memahami masalah yang ada.
1. Apakah kita mengetahui arti semua kata yang digunakan? Jika tidak carilah di indeks, kamus, definisi, dan lainnya.
2. Apakah kita mengetahui yang dicari atau ditanya?
3. Apakah kita mampu menyajikan masalah dengan menggunakan kata- kata sendiri?
4. Apakah masalah dapat disajikan dengan cara lain?
5. Apakah kita dapat menggambar sesuatu yang dapat digunakan sebagai bantuan?
6. Apakah informasi cukup untuk menyelesaikan masalah?
7. Apakah informasi berlebihan?
8. Apakah ada yang perlu dicari sebelum mencari jawaban dari masalah?
B. Menyusun suatu strategi.
1. Jangan ragu-ragu untuk mencoba salah satu dari strategi untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi.
2. Pada umumnya, strategi yang berhasil ditemukan setelah beberapa kali mencoba strategi yang gagal. Kegagalan adalah satu langkah kecil untuk mencapai tujuan dalam pemecahan masalah.
C. Melakukan strategi yang terpilih
Langkah ini lebih mudah dibandingkan menyusun strategi. Disini hanya diperlukan kesabaran dan kehati-hatian untuk menjalankan strategi.
D. Melihat kembali pekerjaan yang telah dilakukan
Selanjutnya, jika perlu menyusun strategi baru yang lebih baik atau menuliskan jawaban dengan lebih baik berada di langka ini.
Di Amerika Serikat, penyelidikan tentang Pemecahan Masalah telah dilakukan beberapa puluh tahun yang lalu. Diantaranya penyelidikan dilakukan oleh Dodson (1971), Hollander (1974). Menurut mereka kemampuan pemecahan masalah yang harus ditumbuhkan adalah:
1. Kemampuan mengerti konsep dan istilah matematika;
2. Kemampuan mencatat kesamaan, perbedaan, dan analogi;
3. Kemampuan untuk mengidentifikasi elemen terpenting dan memilih prosedur yang benar;
4. Kemampuan untuk mengetahui hal yang tidak berkaitan;
5. Kemampuan untuk menaksir dan menganalisa;
6. kemampuan untuk memvisualisasi dan mengimplementasi kuantitas atau ruang;
7. Kemampuan untuk memperumum (generalisasi) berdasarkan beberapa contoh;
8. Kemampuan untuk menganti metode yang telah diketahui;
9. Mempunyai kepercayaan diri yang cukup dan merasa senang terhadap materinya.

Senin, 21 Maret 2011

Asal Usul Gelar Andi Pada Bangsawan Bugis


Asal-usul gelar andi yang disematkan di depan nama bangsawan bugis memang menjadi pertanyaan banyak orang. Bermacam-macam pendapat dari para sejarawan ataupun cerita orang-orang tua dulu tentang awal mula munculnya gelar andi di dalam masyarakat bugis, namun belum ada yang dapat menunjukkan bukti atau sumber yang benar-benar dapat dijadikan rujukan mutlak.
Dari beberapa sumber yang kami dapatkan, maka dapat diuraikan secara singkat tentang penggunaan nama Andi sebagai gelar yang digunakan para bangsawan Bugis.
Sebutan “Andi” adalah sebutan alur kebangsawanan yang diwariskan hasil genetis (keturunan) Lapatau, pasca Bugis merdeka dari orang Gowa.” Andi” ini dimulai ketika 24 Januari 1713 dipakai sebagai extention untuk semua keturunan hasil perkawinan Lapatau dengan putri Raja Bone sejati, Lapatau dengan putri Raja Luwu (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri raja Wajo (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri Sultan Hasanuddin (Sombayya Gowa), Anak dan cucu Lapatau dengan putri Raja Suppa dan Tiroang. Anak dan cucu Lapatau dengan putri raja sejumlah kerajaan kecil yang berdaulat di Celebes.
Perkawinan tersebut sebagai upaya VOC untuk membangun dan mengendalikan sosiologi baru di Celebes. Dan dengan alasan ini pula maka semua bangsawan laki-laki yang potensial pasca perjanjian bungaya, yang extrim dikejar sampai ke pelosok nusantara dan yang softly diminta tinggalkan bumi sawerigading (Celebes).
Siapa yang pungkiri kalau (Alm) Jendral Muhammad Yusuf adalah bangsawan Bugis, tetapi beliau enggan memakai produk exlusivisme buatan VOC. Beliau sejatinya orang Bugis genetis sang Sawerigading. Siapa pula yang pungkiri bahwa Yusuf Kalla adalah bangsawan Bugis tetapi beliau tidak memakai gelar “Andi” karena bukan keturunan langsung Lapatau.
Dalam versi lain, walaupun kebenaraannya masih dipertanyakaan selain karena belum ditemukan catatan secara tertulis dalam “Lontara” tetapi ada baiknya juga dipaparkan sebagai salah satu referensi penggunaan nama “Andi” tersebut. Di era pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri hubungan Bone dan VOC penuh dengan ketegangan dan berakhir dengan istilah “Rompana Bone“. Dalam menghadapi Belanda dibentuklah pasukan khas yaitu pasukan “Anre Guru Ana’ Karung” yang di pimpin sendiri Petta Ponggawae. Dalam pasukan tersebut tidak di batasi hanya kepada anak-anak Arung (bangsawan) saja tetapi juga kepada anak-anak muda tanggung yang orangtuanya mempunyai kedudukan di daerah masing-masing seperti anak pabbicara’e, salewatang dan lain-lain, bahkan ada dari masyarakat to meredaka. Mereka mempunyai ilmu sebagai “Bakka Lolo dan Manu Ketti-ketti“. Anggota pasukan tersebut disapa dengan gelaran “Andi” sebagai keluarga muda angkat Raja Bone yang rela mati demi patettong’ngi alebbirenna Puanna (menegakkan kehormatan rajanya).
Menurut cerita orang-orang tua Bone, Petta Imam Poke saat menerima tamu yang mamakai gelaran “Andi” atau “Petta” dari daerah khusus Bone maka yang pertama ditanyakan “Nigatu Wija idi’ Baco/Baso? (anda keturunan siapa Baso/Baco?). Baso/Baco adalah sapaan untuk anak laki-laki. Jika mereka menjawab “Iyye, iyya atanna Petta Pole (saya adalah hambanya Petta Pole)”, maka Petta Imam Poke mengatakan “Koki tudang ana baco/baso” (duduklah disamping saya) sambil menunjukkan dekat tempat duduknya, maka nyatalah bahwa “Andi” mereka pakai memang keturunan bangsawan pattola, cera dan rajeng, tetapi kalau jawaban Petta mengatakan “oohh, enreki mai ana baco” sambil menunjukkan tempat duduk di ruang tamu maka nyatalah “Andi” mereka pakai karena geleran bagi anak ponggawa kampong (panglima) atau ana to maredeka yang pernah ikut dalam pasukan khas tersebut.
Dalam versi yang hampir sama, gelar “Andi” pertama kali digunakan oleh Raja Bone ke-30 dan ke-32 La Mappanyukki, beliau adalah Putra Raja Gowa dan Putri Raja Bone. Gelar itu disematkan didepan nama beliau pada Tahun 1930 atas Pengaruh Belanda. Gelar Andi tersebut bertujuan untuk menandai Bangsawan-bangsawan yang berada dipihak Belanda, dan ketika melihat berbagai keuntungan dan kemudahan yang diperoleh bagi Bangsawan yang memakai gelar “Andi” didepan namanya, akhirnya setahun kemudian secara serentak seluruh Raja-Raja yang berada di Sulawesi Selatan menggunakan Gelar tersebut didepan namanya masing-masing.
Kelihatannya kita harus membuka lontara antara era pemerintahan La Tenri Tatta Petta To Ri Sompa’e sampai La Mappanyukki khususnya versi Bone karena era itulah terjadi jalinan kerja sama maupun perseteruan antara Raja-Raja di celebes dengan VOC, selain itu orang yang bersangkutan menyaksikan awal penggunaan secara meluas bagi Ana’ Arung juga semakin sukar dicari alias sudah banyak yang berpulang ke Rahmatullah, salah satu pakar yang begitu arif tentang masalah ini adalah Almahrum Tau Ri Passalama’e Anre Gurutta H.A.Poke Ibni Mappabengga (Mantan imam besar mesjid Raya Bone)…
Gelar Andi, menurut Susan Millar dalam bukunya ‘Bugis Weddings’ (telah diterbitkan oleh Ininnawa berjudul (Perkawinan Bugis) disinggung bagaimana proses lahirnya gelar Andi itu. Memang, seperti yang disinggung di atas, saat itu Pemerintah Belanda di tahun 1910-1920an ingin memperbaiki hubungan dengan para bangsawan Bugis dengan membebaskan keturunan bangsawan dari kerja paksa. Saat itu muncul masalah bagaimana menentukan seorang berdarah bangsawan atau tidak. Akibatnya, berbondong-bondonglah warga mendatangi raja dan menegosiasikan diri mereka untuk diakui sebagai bangsawan, karena rumitnya proses itu maka dibuatlah sebuah gelar baru untuk menentukan kebangsawanan seseorang dengan derajat yang lebih rendah. di pakailah kata Andi untuk menunjukkan kebangsawanan seseorang dalam bentuk sertifikat (mungkin sejenis sertifikat yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah lulus dalam kursus montir mobil atau sejenisnya).
Penggunaan Andi saat itu juga beragam di setiap kerajaan. Soppeng misalnya hanya menetapkan bahwa gelar Andi adalah bangsawan pada derajat keturunan ketiga, sementara Wajo dan Bone hingga keturunan ketujuh.
Dari sumber berikutnya dapat kami uraikan sebagai berikut. Gelar Kebangsawanan “Datu” adalah gelar yang sudah ada sejak adanya kerajaan Bugis, di Luwu misalnya, semua raja bergelar Datu, dan Datu yang berprestasi bergelar Pajung, jadi tidak semua yang bergelar Datu disebung Pajung. Sama halnya di Bone, semua raja bergelar Arung, tapi tidak semua Arung bergelar Mangkau, hanya arung yang berprestasi bergelar Mangkau. Begitu juga di Makassar atau Gowa, semua bangsawan atau raja-raja bergelar Karaeng, hanya yang menjadi raja di Gowa yang bergelar Sombaiya.
Gelar kebangsawanan lainnya, mengikut kepada pemerintahan atau panggaderen di bawahnya, seperti Sulewatang, Arung, Petta, dan lain-lain. Jadi gelar itu mengikut terhadap jabatan yang didudukinya. Sementara untuk keturunannya yang membuktikan sebagai keturunan bangsawan, di Makassar dipanggil Karaeng. sedang di Bugis dipanggil Puang, dan di Luwu dipanggil Opu.
Adapun gelar Andi, pertama-tama yang menggunakannya adalah Andi Mattalatta untuk membedakan antara pelajar dari turunan bangsawan dan rakyat biasa. Dan gelar Andi inilah yang diikuti oleh turunan bangsawan Luwu, dan Makassar. Jadi di zaman Andi Mattalattalah gelar ini muncul.
Gelar “Andi” baru ada setelah era Pemerintah Kolonial Belanda (PKB). Setelah 1905, Sulawesi Selatan benar-benar ditaklukkan Belanda dan terjadi kekosongan kepemimpinan lokal. Tahun 1920-1930an PKB mencanangkan membentuk Zelf Beestuur (Pemerintah Pribumi/Swapraja) yang dibawahi oleh Controleur (Pejabat Belanda) untuk Onder Afdeling. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, jika memang Andi diidentikan dengan Belanda, mengapa pejuang kemerdekaan (Datu Luwu Andi Jemma, Arumpone, Andi Mappanyukki, Ranreng Tuwa Wajo Andi Ninnong) tetap memakai gelar Andi didepan namanya sementara mereka justru menolak dijajah? tapi juga harus diakui bahwa ada juga yang berinisial Andi yang tunduk patuh pada PKB. Nah ini yang kita harus bijak menilai antara gelar dan pilihan personal terhadap kemerdekaan/penjajahan.
Secara umum Bangsawan Bugis berasal dari pemimpin-pemimpin anang/kampung/wanua sebelum datangnya To Manurung/To Tompo. Pimpinan-pimpinan kampung ini yang selanjutnya disebut kalula/arung dengan nama alias/gelar berbeda-beda yang disesuaikan dengan nama kampung/kondisi/perilaku bersangkutan yang dia peroleh melalui pengangkatan/pelantikan oleh sekelompok anang/masyarakat maupun secara kekerasan (peperangan bersenjata) yang selanjutnya diwariskan secara turun-temurun kepada ahli warisnya, kecuali jika dikemudian hari ternyata dia ditaklukkan dan diganti oleh penguasa yang lebih tinggi/kuat.
Sedangkan To Manurung dan To Tompo yang, ‘asal usul’ dan ‘namanya’ kadang-kadang tidak diketahui dan segala kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, oleh sekelompok pimpinan kalula/arung/matoa sepakat untuk mengangkatnya menjadi ketua kelompok dikalangan kalula/arung yang selanjutnya menjadi penguasa/raja yang berarti pula pondasi dasar sebuah kerajaan/negara telah terbentuk –dimana tanah/wilayah, pemimpin/penguasa dan pengakuan dari segenap rakyat sudah terpenuhi.
Penguasa/Raja biasanya kawin dengan sesama To Manurung/To Tompo [jika dia 'ada'/muncul tanpa didampingi pasangannya] dan pada tahap awal cenderung mengawinkan anak-anaknya dengan bangsawan lokal yang sudah ada sebelumnya. Ketika kerajaan-kerajaan kecil tadi dalam perkembangannya menjadi kerajaan besar, barulah perkawainan anak antar-kerajaan mulai diterapkan oleh Arung Palakka
FATIMAH BANRI (WE BANRI GAU)
(1871 – 1895)
We Fatimah Banri atau We Banri Gau Arung Timurung menggantikan ayahnya Singkeru’ Rukka Arung Palakka menjadi Mangkau’ di Bone. Dalam khutbah Jumat namanya disebut sebagai Sultanah Fatimah dan digelarlah We Fatimah Banri Datu Citta. Pada tahun 1879 M. kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo, anak dari We Pada Daeng Malele Arung Berru dengan suaminya I Malingkaang KaraengE ri Gowa.
Yang menjadi tanda tanya adalah :
  1. Apakah sebelum La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo masih ada juga yang menggunakan nama/gelar itu sebelumnya?
  2. Mengapa kata ‘Andi’ yg digunakan/disepakati sebagai penandaan gelar bagi kaum bangsawan Sulawesi Selatan pada saat itu sampai dengan sekarang? Kenapa bukan Karaeng atau Raden atau Uwak atau dan lain-lain?
Urgensi tata cara pandangan dalam asal-usul Andi itu sebenarnya karena tata cara pandang tergantung nara sumber data yang dimilki.
Perbedaan dapat kita lihat sebagai berikut yaitu :
Apabila yg memakai data dari sytem pemerintahan yang pada proses pendudukan Belanda mungkin ada benarnya bahwa Andi adalah pemberian Belanda, tapi ini akan menimbulkan pertanyaan yaitu : Apakah pemberian nama Andi dimana posisi bangsawan saat itu gampang dan mudah melihat yang mana pro dan anti terhadap Belanda karena baik pro dan anti Belanda semuanya menyandang gelar itu?, lalu apakah contoh yang paling mudah ketika Andi Mappanyukki sebagai tokoh yg mempopulerkan nama Andi merupakan orang anti Belanda?
Dari pertanyaan diatas dapat disimpulkan sementara bahwa kata asal-usul nama Andi adalah pemberian Belanda telah gugur.
Apabila data yang mengacu karena istilah penghormatan dari masyarakat luar Bugis atau akhirnya digunakan oleh Belanda terhadap bangsawan Bugis dianggap karena sama sederajat juga ada benarnya dimana yang dulunya istilah Adik adalah Andri menjadi Andi itu sangat relevan karena contoh sangat konkrit adalah sosok Andi Mappanyukki pada sejarah Kronik Van Paser yang namanya disebut hanya La Mappanyukki saja, namun karena banyaknya tetua Bangsawan Wajo hidup di Paser saat itu hingga mengatakan Andri sehingga masyarakat suku-suku Paser, Kutai dayak hingga Banjar sulit menyebutkan dan menyebabkan penyebutan menjadi Andi saja, hal yang sama ketika salah satu Ibukota Kerajan Kutai diberikan nama oleh masyarakat Bugis yang bernama Tangga Arung namun sulit penyebutannya oleh masyarakat setempat menjadi Tenggarong.
Ini juga menjadi data akurat bahwa nama Andi adalah aktualisasi perubahan dari Andri yang tidak bisa diucapkan dan akhrinya masuk ke wilayah orang Belanda dimana orang-orang bule baik Belanda, Portugis hingga Inggris sulit menyebut huruf “R”.
Data yg paling cukup kuat adalah bila suatu kampung (Wanua, Limpo) yang hampir seluruhnya didiami oleh keturunan bangsawan dimana semuanya sejajar ketika dikampung mereka hanya disebut La Nu dan hanya namanya La Nu tapi pada saat dia keluar secara otomatis masyarakat luar melekatkan nama Andi didepannya.menajdi Andi Nu (sebenarnya banyak tokoh di abad ke 18 telah diberi nama Andi sebelum Andi Mappanyukki).
Dari beberapa uraian yang dipaparkan di atas mungkin sulit untuk mengambil kesimpulan asal-usul gelar “Andi” bagi bangsawan bugis, namun yang terpenting adalah dengan membaca beberapa referensi setidaknya kita dapat menambah wawasan kita tentang sejarah Bugis.

 referensi dari http://kampungbugis.com/asal-usul-gelar-andi-pada-bangsawan-bugis/